SADAP_Suara lantang terdengar memecah kesunyian pagi di lapangan Desa Padomasan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, Rabu (22/10/25). “Siap grak!” seru M. Anton, komandan upacara Hari Santri Nasional 2025.


Wajahnya tampak tegas, namun siapa sangka, di balik suara tegas itu tersimpan rasa grogi dan ragu yang sempat menyelimuti dirinya.
Anton bukan prajurit atau petugas protokoler. Ia adalah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Pimpinan Ranting (PR) Ansor Padomasan. Sehari-harinya, ia dikenal sebagai pedagang, sementara malam harinya menjadi tukang servis elektronik.
Rutinitasnya sederhana, tapi semangat pengabdiannya luar biasa.
“Ini pertama kalinya saya jadi komandan upacara. Grogi iya, ragu juga iya,” tutur Anton dengan senyum lega setelah upacara usai.
“Tapi Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar,” tambahnya
Anton mengaku hanya sempat latihan satu kali dan gladi bersih satu kali. Meski persiapan terbilang singkat, ia tampil percaya diri di hadapan ratusan peserta upacara.
Semua itu, katanya, tak lepas dari bimbingan pelatih yang luar biasa, seorang anggota TNI dari Koramil Kecamatan Jombang.
“Pelatihnya sabar dan tegas. Saya belajar banyak, terutama soal kedisiplinan dan tanggung jawab,” ujarnya.
Namun tugas Anton belum selesai. Usai memimpin upacara, ia langsung berganti peran menjadi petugas pengamanan Banser di Desa Keting, yang masih satu kecamatan.
Di sana sedang berlangsung kirab santri dalam rangkaian peringatan Hari Santri. Tanpa mengeluh, Anton melanjutkan pengabdiannya meski harus libur sehari berdagang.
“Capek sih, tapi ini bagian dari khidmat. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” katanya ringan.
Kisah Anton menjadi cermin semangat santri yang tak lekang oleh profesi. Dari pasar ke lapangan, dari obeng ke komando barisan, semua ia jalani dengan niat tulus untuk berkhidmat.
“Buat saya, Banser itu bukan cuma barisan keamanan,” tapi barisan pengabdian. Di mana pun kita berada, semangat santri harus tetap hidup,” pungkasnya.(*)










